Memuat berita utama…

Berita Terbaru

Jendela Informasi Terkini

Lihat semua →
Kulit Durian Bisa Jadi Cuan! Dari Olahan Makanan Hingga Isian Bantal, Limbah yang Berpotensi Menjadi Peluang Usaha Redaksi Berita Terkini

Karebamelo.com - Inovasi pemanfaatan kulit durian membuka peluang ekonomi kreatif berbasis limbah. Melalui pengolahan yang tepat, bagian buah yang selama ini dibuang dapat dikembangkan menjadi bahan pangan olahan maupun serat untuk produk rumah tangga.

Kulit durian selama ini identik dengan sampah yang menumpuk di pasar, lapak penjual durian, hingga lingkungan permukiman. Ketika musim durian tiba, limbah ini dapat ditemukan dalam jumlah besar karena masyarakat umumnya hanya mengonsumsi daging buahnya. Padahal, di balik bentuknya yang tebal dan berduri, kulit durian menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi.

Pemanfaatan kulit durian tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi sampah organik, tetapi juga membuka peluang usaha bagi masyarakat, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kelompok perempuan, hingga komunitas kreatif. Dua jalur pengembangan yang menarik untuk dikaji adalah pengolahan bagian dalam kulit durian menjadi bahan pangan dan pemanfaatan seratnya sebagai bahan alternatif untuk produk rumah tangga, termasuk isian bantal.

Meski demikian, pengembangan kedua produk tersebut memerlukan proses yang berbeda. Produk pangan harus memenuhi persyaratan keamanan dan mutu makanan, sedangkan bahan isian bantal perlu melalui pengolahan serat, pengeringan, serta pengujian kenyamanan dan ketahanan sebelum layak dipasarkan.

Penelitian Membuktikan Kulit Durian Berpotensi Diolah Menjadi Makanan

Pemanfaatan kulit durian menjadi bahan pangan bukan sekadar gagasan. Sejumlah penelitian di Indonesia telah mengkaji kemungkinan mengubah bagian dalam kulit durian menjadi tepung untuk bahan baku makanan.

Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia pada 31 Juli 2025 oleh Anita Rahmiwati dan Annisa Az-Zahra menguji penggunaan tepung kulit durian dalam pembuatan kukis cokelat. Penelitian tersebut membandingkan beberapa formulasi dengan tingkat substitusi tepung kulit durian sebesar 10 persen, 20 persen, dan 30 persen terhadap tepung terigu.

Hasil pengujian organoleptik menunjukkan bahwa formulasi dengan 10 persen tepung kulit durian menjadi formulasi yang paling disukai dalam penelitian tersebut. Formulasi ini juga mencatat kandungan serat kasar sebesar 5,84 persen, dibandingkan 4,34 persen pada kukis kontrol. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kulit durian berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan substitusi dalam produk pangan tertentu, meskipun hasilnya tidak otomatis berlaku untuk semua jenis makanan maupun proses produksi.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal I-Com: Indonesian Community Journal pada 2024 mendokumentasikan program BERLIAN atau Berkah Limbah Durian di Desa Patalagan, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Program tersebut melibatkan pelatihan pengolahan limbah kulit durian menjadi tepung dan pemanfaatannya sebagai bahan campuran pempek pada industri rumahan.

Selain itu, artikel ilmiah tentang MAKUDU atau Makaroni Kulit Durian yang diterbitkan dalam JITIPARI pada 2021 membahas pengembangan makanan ringan berbahan tepung kulit durian. Rangkaian penelitian dan kegiatan tersebut memberikan dasar bahwa pengolahan kulit durian menjadi produk pangan telah dikaji secara ilmiah dan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Sumber:

Dari Tepung Kulit Durian Menjadi Kukis, Makaroni, dan Produk Olahan Lain

Salah satu cara mengembangkan kulit durian menjadi produk jual adalah mengolah bagian dalam kulitnya menjadi tepung. Bahan ini kemudian dapat digunakan sebagai campuran dalam formulasi makanan tertentu, dengan tetap memperhatikan karakteristik rasa, aroma, warna, dan tekstur produk akhir.

Secara umum, pengembangan tepung kulit durian dimulai dengan memilih kulit yang masih layak, memisahkan bagian dalam yang akan digunakan, membersihkannya secara menyeluruh, lalu melakukan perlakuan pendahuluan yang sesuai. Bahan selanjutnya dipotong kecil, dikeringkan menggunakan metode yang terkendali, kemudian digiling dan diayak hingga menghasilkan tepung dengan ukuran partikel yang relatif seragam.

Tepung tersebut dapat diuji coba sebagai bahan campuran kukis, makaroni, atau produk olahan lainnya. Formulasi perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan karena penambahan tepung kulit durian dapat memengaruhi tekstur, warna, aroma, rasa, dan kadar air makanan.

Bagi pelaku UMKM, produk seperti kukis dan makaroni memiliki sejumlah keunggulan untuk dikembangkan. Keduanya dapat dikemas dalam ukuran kecil, diberi merek, dipasarkan melalui toko oleh-oleh, dititipkan di warung, atau dijual melalui platform perdagangan elektronik.

Namun, proses produksi untuk konsumsi manusia tidak boleh dilakukan dengan sekadar mengeringkan kulit durian yang sudah dikumpulkan dari tempat sampah. Bahan baku harus berasal dari sumber yang bersih dan dapat ditelusuri, diolah dengan prosedur higienis, serta diuji untuk memastikan keamanan dan kestabilan produk. Pelaku usaha juga perlu memenuhi ketentuan perizinan pangan yang berlaku sebelum menjual produk secara komersial.

Kulit Durian sebagai Bahan Alternatif Isian Bantal

Selain untuk makanan, kulit durian juga menarik dikaji sebagai sumber serat untuk produk nonpangan. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan seratnya sebagai bahan alternatif isian bantal.

Gagasan ini berangkat dari karakter kulit durian yang mengandung komponen serat, termasuk selulosa dan lignin. Namun, kandungan tersebut tidak berarti kulit durian mentah dapat langsung dimasukkan ke dalam bantal. Bagian kulit yang keras dan berduri perlu diproses terlebih dahulu untuk mendapatkan material yang sesuai.

Pengembangannya dapat dimulai dengan memisahkan bagian kulit yang berpotensi menghasilkan serat, melakukan pencacahan, kemudian menerapkan proses pengolahan yang sesuai untuk memisahkan atau memperhalus serat. Material selanjutnya perlu dikeringkan secara menyeluruh, dibersihkan, dan diperiksa untuk memastikan tidak ada sisa bahan organik yang mudah membusuk.


Tahap berikutnya adalah pengujian sifat fisik material, termasuk kelembutan, elastisitas, kemampuan mempertahankan bentuk, daya tahan, serta kecenderungannya menyerap dan menahan kelembapan. Bahan juga perlu dievaluasi dari segi kebersihan, bau, potensi pertumbuhan jamur, dan kemungkinan menyebabkan iritasi.

Sebelum dipasarkan sebagai bantal untuk tidur, produk harus melalui pengembangan dan pengujian yang memadai. Serat kulit durian yang belum diproses dan diuji belum dapat dianggap setara dengan dakron, silikon, atau bahan isian bantal komersial lainnya.

Karena itu, pemanfaatan kulit durian sebagai isian bantal sebaiknya diposisikan sebagai peluang penelitian dan pengembangan produk. Pelaku usaha dapat memulai dari pembuatan sampel, bekerja sama dengan perguruan tinggi atau lembaga pengujian, kemudian menilai kelayakan produk berdasarkan kenyamanan, keamanan, dan biaya produksinya.

Peluang Usaha: Mengubah Limbah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Potensi usaha kulit durian terletak pada kemampuan mengubah bahan yang semula tidak dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual. Bagi masyarakat di daerah penghasil durian, bahan baku dapat diperoleh melalui kerja sama dengan pedagang buah, pasar tradisional, pengelola wisata kuliner, maupun kelompok petani.

Model bisnisnya dapat dikembangkan melalui dua jalur. Pertama, unit pengolahan pangan yang menghasilkan tepung kulit durian dan produk turunannya. Kedua, unit pengolahan material serat yang memasok bahan hasil pengembangan kepada produsen bantal atau pelaku industri kreatif.

Kedua jalur tersebut sebaiknya dijalankan dengan fasilitas, peralatan, dan prosedur yang terpisah. Peralatan yang digunakan untuk mengolah bahan nonpangan tidak boleh digunakan untuk memproduksi makanan tanpa pengendalian sanitasi dan prosedur yang sesuai.

Dalam skala rumahan, pengusaha dapat memulai dengan menguji satu produk terlebih dahulu. Untuk jalur pangan, misalnya, membuat beberapa formulasi kukis dalam jumlah terbatas dan menguji penerimaan konsumen. Untuk jalur serat, pelaku usaha dapat menghasilkan prototipe material dan mengukur biaya pengolahan sebelum membuat produk akhir.

Strategi pemasaran dapat mengangkat konsep ekonomi sirkular, pengurangan limbah, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Cerita mengenai asal bahan baku dan proses pengolahannya dapat menjadi bagian dari identitas merek, asalkan disampaikan secara transparan dan tidak berlebihan.

Cara Menghitung Potensi Keuntungan

Peluang keuntungan dari pengolahan kulit durian tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan banyaknya bahan baku yang tersedia. Perhitungan harus memperhitungkan biaya pengumpulan, transportasi, tenaga kerja, pencucian, pengeringan, penggilingan, energi, kemasan, pengujian mutu, perizinan, dan pemasaran.

Untuk produk makanan, biaya produksi perlu dibandingkan dengan harga jual yang realistis berdasarkan ukuran kemasan, kualitas, dan daya beli konsumen. Untuk produk isian bantal, perhitungan harus mencakup biaya pengolahan serat, bahan pendukung, pembuatan sarung, pengujian produk, dan biaya distribusi.

Sebagai ilustrasi, apabila sebuah usaha menghasilkan 100 kemasan kukis dan memperoleh margin kontribusi Rp3.000 per kemasan setelah memperhitungkan biaya variabel, maka margin kontribusinya mencapai Rp300.000. Angka tersebut hanyalah simulasi, bukan data keuntungan usaha yang telah terbukti. Biaya tetap, penyusutan peralatan, pajak, dan pengeluaran lain masih perlu diperhitungkan untuk mengetahui laba bersih.

Dengan perhitungan yang realistis, pelaku usaha dapat mengetahui apakah pengolahan kulit durian layak dijalankan secara berkelanjutan atau perlu diperbaiki dari sisi teknologi, kapasitas produksi, maupun strategi penjualan.

Tantangan yang Perlu Dijawab Sebelum Dipasarkan

Meskipun memiliki potensi, pemanfaatan kulit durian masih menghadapi sejumlah tantangan. Untuk produk pangan, persoalan utamanya adalah konsistensi bahan baku, keamanan mikrobiologis, karakteristik rasa, kadar air, dan daya simpan. Produk harus dikembangkan melalui prosedur yang dapat diulang dan menghasilkan mutu yang konsisten.


Sementara itu, pemanfaatan kulit durian sebagai bahan isian bantal menghadapi tantangan pengolahan serat, kelembutan, bobot, daya tahan, dan kenyamanan penggunaan. Material yang mudah menyerap kelembapan juga berpotensi mengalami masalah penyimpanan apabila proses pengeringan dan pengemasannya tidak tepat.

Dari sisi bisnis, pelaku usaha perlu memastikan bahwa biaya untuk mengubah limbah menjadi bahan baku tidak justru lebih tinggi daripada nilai produk akhirnya. Ketersediaan bahan baku musiman juga perlu diantisipasi melalui sistem pengumpulan dan penyimpanan yang sesuai.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok UMKM, dan lembaga pengujian dapat membantu mempercepat pengembangan teknologi sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dihasilkan.

Ekonomi Sirkular Dimulai dari Pemanfaatan Limbah Lokal

Pengolahan kulit durian menjadi makanan dan bahan alternatif isian bantal memperlihatkan bahwa limbah pertanian dapat menjadi sumber gagasan usaha apabila didukung penelitian, teknologi, dan perencanaan bisnis yang tepat.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan kemungkinan pemanfaatan bagian dalam kulit durian sebagai bahan tepung untuk produk pangan. Sementara itu, pemanfaatan serat kulit durian untuk bantal masih memerlukan pembuktian teknis lebih lanjut agar produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan kenyamanan dan keamanan.

Bagi masyarakat dan pelaku UMKM, langkah awal yang paling realistis adalah memilih satu jenis produk, menguji proses produksinya, menghitung biaya, dan memastikan adanya permintaan pasar sebelum melakukan investasi lebih besar.

Pada akhirnya, nilai ekonomi kulit durian tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya limbah yang berhasil dikumpulkan, tetapi oleh kemampuan mengolahnya menjadi produk yang aman, berkualitas, bermanfaat, dan benar-benar dibutuhkan konsumen. Dengan pendekatan tersebut, limbah yang sebelumnya dibuang berpeluang menjadi bagian dari rantai usaha baru yang mendukung ekonomi masyarakat sekaligus mengurangi beban lingkungan. (Red)

Catatan redaksi: Bukti ilmiah yang dirujuk dalam artikel ini mendukung pemanfaatan kulit durian untuk bahan pangan tertentu. Untuk penggunaan sebagai isian bantal, artikel ini menjelaskan peluang pengembangan, bukan menyatakan bahwa produk tersebut sudah terbukti aman, nyaman, atau telah diproduksi dan dipasarkan secara luas.

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Drama 2-2 dan Adu Penalti Bawa Garuda Ukir Sejarah Redaksi Berita Terkini
©Karebamelo.com
Jakarta, Karebamelo.com – Tim Nasional Indonesia mencatat sejarah baru dengan menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026 setelah menundukkan Thailand melalui drama adu penalti dalam pertandingan final yang berlangsung menegangkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin malam, 5 Oktober 2026.

Indonesia dan Thailand bermain imbang 2-2 hingga 120 menit pertandingan, sebelum akhirnya skuad Garuda memastikan kemenangan 4-2 melalui adu penalti.

Gelar ini menjadi sangat istimewa karena Indonesia tampil sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup. Kesuksesan tersebut diraih di hadapan puluhan ribu pendukung Merah Putih sekaligus disaksikan langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Presiden FIFA Gianni Infantino, serta Ketua Umum PSSI Erick Thohir.


Final Berjalan Ketat Sejak Menit Awal

Pertandingan final mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola Asia Tenggara. Indonesia tampil lebih agresif dalam penguasaan bola, sementara Thailand berusaha bermain disiplin dan mengandalkan transisi cepat.

Sepanjang sebagian besar babak pertama, kedua tim kesulitan menciptakan peluang yang benar-benar mengancam. Indonesia beberapa kali mendapatkan kesempatan melalui Mitchell Baker dan Calvin Verdonk, tetapi belum mampu mengubah papan skor.

Thailand juga memilih pendekatan yang relatif berhati-hati. Pertahanan mereka mampu meredam sejumlah serangan Indonesia sehingga babak pertama berakhir tanpa gol.

Memasuki babak kedua, pertandingan semakin terbuka.

Thailand kemudian mendapat pukulan besar ketika Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan. Thailand pun harus bermain dengan sepuluh pemain.

Situasi tersebut dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan tekanan.


Dean James Pecah Kebuntuan Menit ke-84

Keunggulan jumlah pemain akhirnya membuahkan hasil.

Pada menit ke-84, Indonesia mendapatkan tendangan bebas dari luar kotak penalti. Dean James mengambil eksekusi dan melepaskan bola ke arah gawang Thailand.

Bola tersebut kemudian mengenai pemain Thailand, Iklas Sanron, sebelum berubah arah dan melewati penjaga gawang Saranon Anuin.

Gol tersebut membuat Indonesia unggul 1-0.

SUGBK bergemuruh. Para pemain Indonesia langsung merayakan gol yang datang ketika pertandingan memasuki fase akhir.

Namun keunggulan tersebut ternyata tidak berlangsung lama.


Thailand Membalas Tiga Menit Kemudian

Meski bermain dengan sepuluh pemain, Thailand menunjukkan mentalitas yang kuat.

Pada menit ke-87, Thailand berhasil menyamakan kedudukan melalui Iklas Sanron.

Gol berawal dari umpan silang Seksan Ratree yang masuk ke area berbahaya. Iklas kemudian menyambut bola dengan tendangan voli yang mengarah ke tiang jauh dan tidak mampu dihentikan kiper Indonesia Emil Audero.

Skor berubah menjadi 1-1.

Indonesia kembali berusaha mencari gol kemenangan pada sisa waktu normal. Namun hingga peluit akhir babak kedua, tidak ada tambahan gol.

Karena skor tetap imbang, pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.


Thailand Berbalik Unggul pada Menit ke-111

Drama semakin besar pada babak tambahan.

Thailand yang masih bermain dengan sepuluh pemain justru mampu menciptakan kejutan.

Pada menit ke-111, Peeradol Chamratsamee berhasil membawa Thailand berbalik unggul 2-1.

Gol tersebut membuat suasana SUGBK sempat terdiam. Indonesia berada dalam posisi tertekan karena hanya memiliki waktu tersisa untuk menyelamatkan pertandingan.

Namun skuad Garuda kembali menunjukkan mental pantang menyerah.




Elkan Baggott Menyelamatkan Indonesia

Lima menit setelah Thailand mencetak gol keduanya, Indonesia memberikan respons.

Pada menit ke-116, Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan.

Tembakan Baggott membentur bagian bawah mistar sebelum bola masuk ke dalam gawang Thailand.

Skor berubah menjadi 2-2.

Gol tersebut menjadi salah satu momen paling dramatis dalam final. Indonesia kembali memiliki kesempatan untuk mengakhiri pertandingan sebagai pemenang, tetapi waktu yang tersisa tidak cukup untuk menciptakan gol ketiga.

Hingga 120 menit pertandingan berakhir, skor tetap 2-2.

Penentuan juara akhirnya harus dilakukan melalui adu penalti.


Drama Adu Penalti: Indonesia Menang 4-2

Adu penalti menjadi ujian terakhir bagi kedua tim.

Indonesia menurunkan empat eksekutor yang semuanya berhasil menjalankan tugasnya.

Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama sukses mencetak gol dari titik penalti.

Thailand hanya mampu mencetak dua gol.

Kegagalan Thailand datang ketika Sarach Yooyen gagal mengeksekusi penalti setelah sepakannya tidak masuk ke gawang. Kemudian Nattapong Sayriya juga gagal setelah tendangannya berhasil ditepis kiper Indonesia, Emil Audero.

Audero pun tampil sebagai salah satu pahlawan kemenangan Garuda.

Setelah seluruh rangkaian penalti selesai, Indonesia menang 4-2 dan resmi mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026.


Prabowo Saksikan Langsung Perjuangan Garuda

Kemenangan bersejarah tersebut disaksikan langsung Presiden RI Prabowo Subianto dari tribun SUGBK.

Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Presiden Prabowo hadir bersama Presiden FIFA Gianni Infantino dan sejumlah pejabat negara, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua Umum PSSI Erick Thohir.

Kehadiran Presiden memberikan perhatian khusus terhadap pertandingan final yang menjadi salah satu laga penting dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Prabowo tampak larut dalam ketegangan pertandingan. Ketika Indonesia memastikan kemenangan melalui adu penalti, Presiden ikut menunjukkan kegembiraannya atas keberhasilan skuad Garuda.

Usai pertandingan, Prabowo bersama Gianni Infantino turut berada dalam seremoni penyerahan medali dan trofi kepada juara.


Erick Thohir: Perjuangan Pemain Luar Biasa

Ketua Umum PSSI Erick Thohir memberikan apresiasi terhadap perjuangan para pemain Indonesia.

Erick mengakui Thailand merupakan lawan yang kuat dan pertandingan final berlangsung sangat sulit. Namun, menurutnya, para pemain Indonesia mampu mempertahankan semangat hingga detik terakhir.

Perjuangan tersebut terlihat jelas ketika Indonesia dua kali berada dalam posisi tertinggal setelah Thailand menyamakan skor menjadi 1-1 dan kemudian berbalik unggul 2-1 pada babak tambahan.

Indonesia kembali bangkit melalui gol Elkan Baggott dan akhirnya menyelesaikan pertandingan lewat adu penalti.

Erick juga menilai kemenangan tersebut menjadi bagian dari proses panjang pembenahan sepak bola Indonesia. Setelah keberhasilan ini, PSSI masih memiliki pekerjaan besar untuk mempersiapkan tim menghadapi agenda internasional berikutnya, termasuk Piala Asia 2027.


Prabowo: Timnas Indonesia Menunjukkan Semangat Pantang Menyerah

Setelah pertandingan, Presiden Prabowo menyampaikan rasa gembira, syukur, dan bangganya atas perjuangan Timnas Indonesia.

Menurut Prabowo, salah satu hal paling penting dari kemenangan tersebut bukan hanya trofi, tetapi semangat para pemain yang tidak menyerah sampai pertandingan benar-benar berakhir.

Presiden juga menyebut kemenangan tersebut sebagai contoh semangat pantang menyerah.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan pemberian bonus kepada pemain setelah keberhasilan tersebut, Prabowo menyerahkan persoalan itu kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir.


Sejarah Baru Sepak Bola Indonesia

Kemenangan atas Thailand membuat Indonesia menorehkan catatan penting dalam sejarah sepak bola nasional.

Bukan hanya karena berhasil mengalahkan Thailand, tetapi karena gelar tersebut merupakan trofi perdana FIFA ASEAN Cup.

Perjalanan menuju gelar juga memperlihatkan karakter berbeda dari skuad Garuda. Indonesia tidak menang dengan pertandingan yang mudah.

Justru sebaliknya, Indonesia harus melewati pertandingan selama 120 menit, dua kali berada dalam situasi sulit, kemudian menghadapi tekanan mental melalui adu penalti.

Dari skor 0-0, Indonesia kemudian unggul 1-0 melalui Dean James. Thailand membalas menjadi 1-1 lewat Iklas Sanron. Pada babak tambahan Thailand kembali unggul 2-1 melalui Peeradol Chamratsamee, sebelum Elkan Baggott menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Setelah itu, Emil Audero dan para eksekutor penalti Indonesia menyelesaikan pekerjaan terakhir.


Kronologi Gol Indonesia vs Thailand

84' – Indonesia 1-0 Thailand
Dean James mencetak gol melalui tendangan bebas yang berubah arah setelah mengenai pemain Thailand.

87' – Indonesia 1-1 Thailand
Iklas Sanron menyamakan kedudukan melalui tendangan voli setelah menerima umpan silang Seksan Ratree.

111' – Indonesia 1-2 Thailand
Peeradol Chamratsamee membawa Thailand kembali unggul pada babak perpanjangan waktu.

116' – Indonesia 2-2 Thailand
Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan melalui tembakan yang membentur bagian bawah mistar.

Adu penalti – Indonesia menang 4-2
Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott dan Shayne Pattynama sukses mencetak gol. Thailand gagal melalui eksekusi Sarach Yooyen dan Nattapong Sayriya, dengan eksekusi terakhir berhasil dihentikan Emil Audero.

Bukan Sekadar Trofi

FIFA mencatat kemenangan tersebut sebagai keberhasilan Indonesia menjadi juara Piala ASEAN FIFA edisi perdana. Bagi Indonesia, pencapaian itu sekaligus menjadi simbol perkembangan sepak bola nasional di kawasan Asia Tenggara.

Yang membuat kemenangan ini semakin berkesan adalah cara Garuda mendapatkannya.

Indonesia tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga daya tahan mental. Ketika lawan bermain dengan sepuluh pemain, ketika keunggulan tidak bertahan lama, bahkan ketika Thailand kembali unggul di babak tambahan, para pemain Indonesia tetap mencari jalan untuk bangkit.

Dan ketika 120 menit belum cukup untuk menentukan pemenang, Garuda mampu melewati ujian terakhir dari titik putih. Indonesia akhirnya menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026.

Dari SUGBK, sebuah sejarah baru sepak bola Indonesia untuk pertama kali akhirnya menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. (Gun)

Prabowo Lantik Sejumlah Pejabat Kabinet Merah Putih di Istana Negara Redaksi

Foto : dok. BPMI SETPRES

Karebamelo.com . Jakarta - Presiden Prabowo Subianto melakukan perubahan susunan sejumlah pejabat pemerintahan dengan melantik sejumlah menteri, wakil menteri, serta kepala dan wakil kepala lembaga negara di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Pelantikan tersebut merupakan bagian dari penataan kabinet untuk melanjutkan pemerintahan pada sisa masa jabatan periode 2024–2029. Prosesi pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo.

Berdasarkan keterangan resmi pemerintah, pelantikan menteri dan wakil menteri mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 104/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih Periode 2024–2029.

Dalam susunan baru tersebut, Bahlil Lahadalia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Sementara Sugiono dilantik sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK).

Posisi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan kini ditempati Dudung Abdurachman, sedangkan jabatan Menteri Luar Negeri dipercayakan kepada diplomat senior Arrmanatha Christiawan Nasir.

Perubahan juga terjadi di Kementerian Perindustrian. Muhammad Sarmuji resmi dilantik sebagai Menteri Perindustrian.

Di tingkat wakil menteri, Presiden Prabowo melantik Dradjad Hari Wibowo sebagai Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Dua pejabat juga mengisi posisi Wakil Menteri Keuangan, yakni Nurkholisoh Ibnu Aman dan Luky Alfirman.

Sementara itu, Muhammad Saleh Mustafa dipercaya sebagai Wakil Menteri Pertanian dan Irwan Meilano sebagai Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan.


Listyo Sigit hingga Dedi Prasetyo Isi Jabatan Strategis

Selain menteri dan wakil menteri, sejumlah pejabat juga mendapat amanah baru di lembaga pemerintahan.

Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Jabatan Kepala Badan Reforma Agraria Nasional dipercayakan kepada Dedi Prasetyo.

Presiden juga melantik Aryanto Wibowo sebagai Wakil Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta Fadil Imran sebagai Wakil Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa.

Foto : dok. BPMI SETPRES

Di lembaga pengawasan pelayanan publik, Nuzran Joher dilantik sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia. Dalam rangkaian yang sama, Radian Syam juga dilantik sebagai anggota Ombudsman.

Pelantikan tersebut berlangsung dalam suasana resmi dan dihadiri jajaran pimpinan lembaga negara serta para menteri dan pejabat Kabinet Merah Putih.


Prosesi Pengambilan Sumpah

Dalam prosesi pelantikan, para pejabat mengucapkan sumpah jabatan yang dipandu langsung oleh Presiden Prabowo. Setelah pengucapan sumpah, para pejabat kemudian menandatangani berita acara pelantikan.

Rangkaian kegiatan selanjutnya ditutup dengan pemberian ucapan selamat. Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming memberikan ucapan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik, yang kemudian diikuti oleh tamu undangan lainnya.

Pelantikan sejumlah pejabat tersebut menjadi bagian dari penataan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam menjalankan agenda pemerintahan hingga berakhirnya masa jabatan periode 2024–2029. (Red)

Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Kemenkes Imbau Masyarakat Tetap Waspada Redaksi Kesehatan

Karebamelo.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kasus influenza yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Meski menunjukkan tren kenaikan, aktivitas influenza di Indonesia masih berada pada tingkat rendah hingga sedang dan belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Gejala seperti demam, batuk, pilek, hingga nyeri tubuh yang belakangan banyak dialami masyarakat menjadi perhatian di tengah meningkatnya aktivitas influenza. Namun, masyarakat diimbau tidak panik dan tetap menerapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penularan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, menjelaskan bahwa peningkatan kasus influenza tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara Asia Tenggara dan berbagai wilayah dunia.

Menurutnya, influenza merupakan penyakit musiman yang memiliki pola peningkatan pada periode tertentu, terutama menjelang akhir tahun.

"Influenza bersifat musiman atau seasonal. Kasus biasanya meningkat sekitar September hingga akhir tahun," kata Andi dalam konferensi pers daring mengenai perkembangan situasi dan penanganan influenza di Indonesia, Senin (28/9/2026).

Data Kemenkes: 17 Persen Spesimen Positif Influenza

Berdasarkan hasil surveilans sentinel ILI-SARI, hingga minggu ke-38 tahun 2026, Kemenkes telah memeriksa sekitar 8.757 spesimen untuk memantau perkembangan influenza di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.527 spesimen atau sekitar 17 persen dinyatakan positif influenza.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, proporsi positif influenza tahun ini tercatat lebih rendah. Pada tahun sebelumnya, terdapat 2.790 spesimen positif dari total 11.805 spesimen yang diperiksa, atau sekitar 26 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kasus influenza mengalami peningkatan, proporsi hasil pemeriksaan positif pada 2026 masih berada di bawah angka tahun sebelumnya.

Sementara itu, subtipe virus influenza yang paling banyak ditemukan dan masih dominan beredar di Indonesia adalah Influenza A(H1N1)pdm09.

Aktivitas Influenza Masih dalam Kategori Rendah

Andi menjelaskan, pemantauan influenza melalui surveilans di rumah sakit hingga minggu ke-38 2026 masih menunjukkan aktivitas penyakit dalam kategori rendah atau low.

Angka tersebut juga masih berada di bawah rata-rata aktivitas influenza dalam 10 tahun terakhir.

Berdasarkan pola historis, tren kasus influenza biasanya mulai menurun setelah melewati minggu ke-39 dan ke-40. Meski demikian, perkembangan kasus tetap perlu dipantau untuk memastikan kondisi terkini.

Sementara itu, hasil surveilans ILI-SARI di puskesmas serta pemantauan di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan menunjukkan tingkat positif influenza dalam kategori sedang atau moderate, dengan kisaran 54–60 persen.

Angka tersebut belum mencapai kategori tinggi (high) maupun luar biasa (extraordinary).

Kemenkes menegaskan bahwa perkembangan kasus tetap menjadi perhatian, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan tren selama periode influenza musiman.

Kemenkes Perkuat Pemantauan dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Untuk mengantisipasi perkembangan kasus influenza, Kemenkes terus memperkuat sistem surveilans sentinel dan kapasitas laboratorium.

Pemantauan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Langkah ini bertujuan mendeteksi perubahan pola penyebaran penyakit sekaligus memastikan penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Selain itu, kesiapan fasilitas kesehatan juga terus diperkuat, termasuk melalui pemenuhan kebutuhan obat-obatan dan peralatan medis.

Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk menjaga kesiapan pelayanan kesehatan menghadapi peningkatan penyakit musiman.

Cara Mencegah Influenza yang Perlu Diketahui

Di tengah meningkatnya aktivitas influenza, masyarakat diimbau tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Berikut sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam aktivitas sehari-hari:

  • Rutin mencuci tangan. Gunakan sabun dan air mengalir, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau menyentuh benda yang digunakan bersama.

  • Gunakan hand sanitizer. Pembersih tangan berbasis alkohol dapat menjadi alternatif ketika fasilitas cuci tangan tidak tersedia.

  • Terapkan etika batuk dan bersin. Tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam untuk mengurangi penyebaran percikan pernapasan.

  • Gunakan masker dengan benar. Masker dianjurkan terutama ketika berada di tempat ramai, menggunakan transportasi umum, atau saat mengalami gejala gangguan pernapasan.

  • Istirahat yang cukup. Apabila mengalami gejala influenza, kurangi aktivitas dan berikan waktu bagi tubuh untuk pulih.

  • Perhatikan kondisi kesehatan. Masyarakat yang memiliki penyakit penyerta perlu menjaga kondisi tubuh dan mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga medis.

Masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan gejala yang dirasakan, terutama apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Kenali Gejala dan Segera Cari Pertolongan Medis

Influenza umumnya ditandai dengan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, serta tubuh terasa lemas.

Meski sebagian besar penderita dapat pulih dengan perawatan yang tepat, influenza berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama pada kelompok rentan seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta.

Karena itu, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala berat, seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi tubuh yang semakin memburuk.

Bagi masyarakat yang sedang sakit, istirahat cukup dan konsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Kemenkes mengingatkan bahwa peningkatan influenza musiman perlu disikapi dengan kewaspadaan, bukan kepanikan. Penerapan PHBS, kebiasaan menjaga kebersihan, serta kesadaran mengenali gejala menjadi langkah penting untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. (Red)

Film Laut Bercerita Tembus Kompetisi Utama BIFF 2026, World Premiere Sebelum Tayang di Indonesia Redaksi Berita Terkini

Karebamelo.com - BUSAN — Film Indonesia kembali mendapat sorotan di panggung perfilman internasional. Laut Bercerita, film debut produksi Pal8 Pictures yang disutradarai Yosep Anggi Noen, resmi terpilih untuk berkompetisi dalam program utama Busan International Film Festival (BIFF) 2026.

Keikutsertaan tersebut sekaligus menjadi world premiere bagi Laut Bercerita. Film yang diadaptasi dari novel laris karya Leila S. Chudori itu akan terlebih dahulu diperkenalkan kepada penonton internasional di Busan sebelum resmi tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.

BIFF 2026 dijadwalkan berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan. Dalam kompetisi utama tersebut, Laut Bercerita akan bersanding dengan sejumlah film dari berbagai negara untuk memperebutkan penghargaan utama festival.

Gita Fara: Busan Jadi Ruang untuk Memperkenalkan Cerita Indonesia

Produser Laut Bercerita, Gita Fara, menilai Busan International Film Festival menjadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan film tersebut kepada penonton Asia dan internasional.

Menurut Gita, kesempatan melakukan pemutaran perdana di Busan bukan hanya menjadi pencapaian bagi film, tetapi juga membuka ruang percakapan yang lebih luas mengenai cerita Indonesia.

“Busan International Film Festival adalah platform yang tepat untuk penonton pertama yang menyaksikan film ini. Sebuah film membawa cerita tentang Indonesia, disaksikan oleh penonton sinema Asia dan internasional,” ujar Gita Fara.

Ia berharap kehadiran Laut Bercerita di BIFF dapat mendorong semakin luasnya pembicaraan mengenai kisah yang diangkat dalam film tersebut, khususnya di kawasan Asia.

Yosep Anggi Noen Kembali ke Busan

Bagi Yosep Anggi Noen, keikutsertaan Laut Bercerita dalam kompetisi utama BIFF memiliki arti personal. Sutradara tersebut mengaku memiliki hubungan dengan festival film Busan sejak awal perjalanan kariernya di dunia perfilman.

“Busan adalah festival yang besar dan penting untuk perfilman Asia dan dunia. Berada dalam kompetisi utama, Laut Bercerita mengusung kisah yang penting disuarakan ke dunia,” kata Anggi.

Ia mengungkapkan bahwa sekitar 19 tahun lalu dirinya pernah mengikuti workshop film pemula di Busan. Kini, ia kembali ke kota tersebut dengan membawa film yang digarapnya bersama Leila S. Chudori.

“Saya sangat senang kembali ke Busan membawa film ini,” ujarnya.

Anggi juga melihat perkembangan perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin membuka peluang bagi karya-karya lokal untuk menjangkau penonton global.

“Film-film Indonesia saat ini tersebar di seluruh dunia, bukti bahwa kisah-kisah dari Indonesia relevan secara global. Di sisi lain, kualitasnya semakin baik karena mampu disandingkan dengan film-film kelas dunia,” tambahnya.

BIFF 2026 dan Jalur Menuju Academy Awards

BIFF 2026 menjadi penyelenggaraan ke-31 festival film tersebut. Festival ini memiliki posisi penting dalam ekosistem perfilman Asia dan internasional.

Dalam perkembangan regulasi Academy Awards ke-99, The Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) memperluas jalur kelayakan untuk kategori Best International Feature Film.

Perubahan tersebut membuka kemungkinan film yang meraih Best Film di BIFF untuk diajukan dalam proses pertimbangan kategori Best International Feature Film. Jalur tersebut berjalan terpisah dari mekanisme pengajuan resmi yang dilakukan melalui perwakilan suatu negara.

Dengan demikian, kompetisi utama BIFF 2026 menjadi salah satu ruang penting bagi film-film yang ingin memperluas jangkauan dan pengakuan di tingkat internasional.

Diadaptasi dari Novel Best Seller Leila S. Chudori

Laut Bercerita merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya penulis Leila S. Chudori. Film ini disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, yang juga menulis skenario bersama Leila S. Chudori.

Film drama berdurasi 135 menit tersebut menghadirkan jajaran pemeran yang terdiri dari Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Kautsar, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.

Dari sisi produksi, Laut Bercerita menjadi film debut Pal8 Pictures. Film ini diproduseri Gita Fara, Budi Setyarso, dan Leila S. Chudori.

Produksinya melibatkan Pal8 Pictures bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, serta Brandlink.

Laut Bercerita Segera Tayang di Bioskop Indonesia

Setelah menjalani world premiere di Busan International Film Festival 2026, Laut Bercerita dijadwalkan menyapa penonton Indonesia melalui penayangan serentak di bioskop mulai 29 Oktober 2026.

Dengan kombinasi adaptasi karya sastra populer, penyutradaraan Yosep Anggi Noen, jajaran aktor kenamaan Indonesia, serta kesempatan tampil dalam kompetisi utama BIFF, Laut Bercerita menjadi salah satu film Indonesia yang akan mendapat perhatian dalam agenda perfilman internasional 2026. (Redaksi)


Data Film Laut Bercerita

Judul: Laut Bercerita
Genre: Drama
Klasifikasi: 17 tahun ke atas
Durasi: 135 menit
World Premiere: Busan International Film Festival (BIFF) 2026
Tayang di Indonesia: 29 Oktober 2026
Produksi: Pal8 Pictures bekerja sama dengan VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, Gambar Gerak Film, dan Brandlink
Diadaptasi dari: Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori
Sutradara: Yosep Anggi Noen
Penulis Skenario: Leila S. Chudori dan Yosep Anggi Noen
Produser: Gita Fara, Budi Setyarso, Leila S. Chudori
Produser Eksekutif: Arif Zulkifli, FX Iwan, Tony Ramesh, Rob O’Hare, Febrian Marcel, Djulianta, Reza Rahadian, dan Arya Ibrahim

Coto Makassar dan Pallubasa, Serupa Tapi Tak Sama: Dua Kuliner Legendaris yang Bikin Rindu Makassar Redaksi Berita Terkini

Coto Makassar & Pallubasa / Foto : dok. ©karebamelo.com

Karebamelo.com - Dari semangkuk kuah hangat yang kaya rempah, Makassar menyimpan cerita panjang tentang tradisi, budaya, dan kekayaan kulinernya. Dua hidangan yang selalu menarik perhatian pencinta makanan khas Sulawesi Selatan adalah Coto Makassar dan Pallubasa.

Sekilas, keduanya tampak hampir sama. Sama-sama menggunakan daging dan jeroan sapi, disajikan dengan kuah berwarna kecokelatan, serta memiliki aroma rempah yang menggugah selera. Namun, di balik kemiripan tersebut, tersimpan perbedaan rasa, bahan, hingga kisah sejarah yang membuat keduanya memiliki identitas tersendiri.

Coto Makassar dikenal dengan kuah kaya rempah dan kacang tanah, sementara Pallubasa menawarkan sensasi gurih yang khas berkat tambahan kelapa parut sangrai. Keduanya menjadi bagian dari kekayaan kuliner Makassar yang terus bertahan dan dinikmati lintas generasi.

Lantas, apa yang membuat kedua makanan ini berbeda? Berikut ulasan lengkapnya.


Coto Makassar, Kuliner Khas yang Punya Jejak Sejarah Panjang

Coto Makassar merupakan salah satu hidangan tradisional Sulawesi Selatan yang telah dikenal luas di berbagai daerah Indonesia. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Makassar, mencicipi coto kerap menjadi bagian dari pengalaman menikmati kuliner lokal.

Coto Makassar / Foto : dok. ©karebamelo.com

Mengutip artikel Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang terbit pada 16 Desember 2019, Coto Makassar disebut memiliki kaitan sejarah dengan masa Kerajaan Gowa, sekitar abad ke-16, ketika pusat kerajaan berada di Somba Opu.

Dalam perkembangannya, hidangan ini juga disebut mendapat pengaruh kuliner Tionghoa, salah satunya terlihat dari penggunaan sambal tauco sebagai pelengkap.

Meski kisah asal-usulnya banyak diceritakan secara turun-temurun, coto telah berkembang menjadi hidangan yang melekat dengan kehidupan masyarakat Makassar, baik dalam keseharian maupun saat menyambut tamu.

Kaya rempah, gurih, dan berkarakter

Salah satu daya tarik Coto Makassar terletak pada racikan bumbunya. Hidangan ini menggunakan daging sapi dan berbagai bagian jeroan yang dimasak bersama bumbu rempah hingga menghasilkan kuah bercita rasa gurih dan beraroma khas.

Dalam tradisi kuliner Makassar, racikan rempah coto dikenal dengan sebutan rampa patang pulo, yang merujuk pada penggunaan banyak jenis rempah.

Beberapa bahan yang dikenal dalam racikan coto antara lain:

  • Ketumbar dan jintan.

  • Bawang merah dan bawang putih.

  • Lengkuas, jahe, serta serai.

  • Merica dan berbagai rempah aromatik.

  • Kacang tanah yang dihaluskan.

Kacang tanah menjadi salah satu unsur penting yang memberikan karakter pada kuah coto. Perpaduan rempah dan kacang menghasilkan rasa gurih dengan tekstur kuah yang khas.

Dalam penyajiannya, coto umumnya dilengkapi daun bawang, bawang goreng, jeruk nipis, serta sambal tauco sesuai selera.


Paling nikmat disantap dengan buras atau ketupat

Coto Makassar biasanya disajikan bersama buras atau ketupat. Buras merupakan olahan beras yang dimasak dalam bungkus daun pisang dan memiliki tekstur lembut.

Perpaduan kuah coto yang hangat dengan buras atau ketupat membuat hidangan ini cocok dinikmati sebagai menu sarapan, makan siang, maupun santapan bersama keluarga.


Pallubasa, Kuliner Gurih yang Tumbuh dari Tradisi Rakyat

Jika Coto Makassar memiliki cerita yang berkaitan dengan lingkungan kerajaan, Pallubasa menyimpan kisah berbeda.

Dalam catatan sejarah kuliner yang dipublikasikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pallubasa dahulu dikenal sebagai makanan yang dekat dengan kalangan pekerja, seperti buruh bangunan dan tukang becak.

Pallubasa / Foto : dok. ©karebamelo.com

Hidangan ini juga dikaitkan dengan tradisi pemanfaatan bagian-bagian sapi yang tidak menjadi pilihan utama pemiliknya. Bagian tersebut kemudian diolah menjadi makanan yang mengenyangkan dan terjangkau.

Seiring waktu, Pallubasa berkembang menjadi kuliner khas Makassar yang dinikmati berbagai kalangan. Kini, hidangan ini tidak hanya dikenal masyarakat setempat, tetapi juga menjadi salah satu sajian yang dicari wisatawan.


Rahasia Pallubasa ada pada kelapa sangrai

Perbedaan paling mudah dikenali antara Pallubasa dan Coto Makassar terletak pada kuahnya.

Pallubasa menggunakan kelapa parut yang disangrai, kemudian dicampurkan ke dalam kuah. Proses ini menghasilkan rasa gurih yang khas, aroma harum, serta tekstur kuah yang terasa lebih pekat.

Pallubasa menggunakan daging dan jeroan sapi dengan tambahan kelapa sangrai serta kuning telur ayam sebagai pelengkap.

Kombinasi tersebut membuat karakter rasanya berbeda dari coto, meskipun keduanya sama-sama menggunakan bahan dasar daging sapi.


Telur menjadi pelengkap yang menggoda

Salah satu ciri penyajian Pallubasa adalah tambahan kuning telur ayam, yang dapat berupa telur ayam kampung.

Telur biasanya dimasukkan ke dalam mangkuk sebelum kuah panas dituangkan. Panas kuah membantu mematangkan telur, sehingga menghasilkan tekstur yang lebih lembut dan menambah kekentalan serta rasa gurih.

Namun, penyajian dapat berbeda antara satu warung dan warung lainnya. Pengunjung juga bisa menyesuaikan pilihan telur sesuai selera dan kebiasaan tempat makan.

Pallubasa umumnya disantap bersama nasi putih hangat. Perpaduan nasi, kuah gurih, dan potongan daging membuat hidangan ini terasa mengenyangkan.


Coto Makassar vs Pallubasa: Apa Saja Perbedaannya?

Meski berasal dari tradisi kuliner yang sama-sama kuat, Coto Makassar dan Pallubasa memiliki sejumlah perbedaan yang dapat dikenali dari bahan, rasa, hingga cara penyajiannya.

Aspek

Coto Makassar

Pallubasa

Bahan utama

Daging dan jeroan sapi

Daging dan jeroan sapi

Ciri kuah

Kaya rempah, umumnya memakai kacang tanah

Gurih dengan tambahan kelapa sangrai

Tekstur kuah

Cenderung lebih ringan dibanding Pallubasa

Lebih pekat dan beraroma kelapa

Pelengkap khas

Sambal tauco, daun bawang, bawang goreng

Kelapa sangrai dan kuning telur

Pendamping

Buras atau ketupat

Umumnya nasi putih hangat

Karakter rasa

Gurih, kaya rempah

Gurih, pekat, dan beraroma kelapa

Catatan: Bahan, tingkat kekentalan, jenis isian, dan pelengkap dapat berbeda sesuai resep serta kebiasaan masing-masing rumah makan.

Sama-Sama Menggunakan Daging Sapi, tetapi Punya Karakter Berbeda

Salah satu alasan Coto Makassar dan Pallubasa sering dianggap sama adalah penggunaan daging dan jeroan sapi sebagai bahan utama.

Keduanya juga melalui proses perebusan yang cukup lama agar daging dan jeroan menjadi empuk. Kuahnya sama-sama kaya rempah dan disajikan dalam keadaan hangat.

Namun, perbedaan bahan tambahan menghasilkan pengalaman rasa yang tidak sama.

Pada Coto Makassar, racikan rempah dan kacang tanah memberikan rasa gurih yang khas. Sementara itu, kelapa sangrai pada Pallubasa menghasilkan aroma yang lebih kuat dan tekstur kuah yang lebih pekat.

Perbedaan tersebut tidak berarti salah satunya lebih unggul. Keduanya menawarkan karakter rasa yang berbeda dan sama-sama menjadi bagian penting dari kuliner Sulawesi Selatan.

Dari Warung Tradisional hingga Destinasi Wisata Kuliner

Coto Makassar dan Pallubasa tidak hanya dikenal sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata kuliner di Makassar.

Kedua hidangan ini dapat ditemukan di berbagai rumah makan, mulai dari warung tradisional hingga tempat makan yang ramai dikunjungi wisatawan.

Kehadiran coto dan pallubasa memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Resep dan cara penyajiannya terus diwariskan, sementara setiap tempat makan memiliki ciri khas masing-masing.

Bagi masyarakat setempat, keduanya juga memiliki kedekatan dengan kehidupan sehari-hari. Semangkuk coto atau pallubasa dapat menjadi pilihan untuk sarapan, makan siang, maupun santapan malam.

Di sisi lain, popularitas kedua hidangan ini turut memperkenalkan kekayaan budaya kuliner Makassar kepada masyarakat yang lebih luas.

Mana yang Lebih Cocok dengan Selera Anda?

Bagi pencinta kuliner yang menyukai kuah kaya rempah dengan rasa gurih yang khas, Coto Makassar bisa menjadi pilihan menarik.

Sementara itu, Pallubasa cocok bagi mereka yang ingin menikmati kuah dengan sensasi gurih kelapa sangrai, tekstur lebih pekat, dan tambahan telur sebagai pelengkap.

Namun, cara paling menyenangkan untuk mengenal keduanya tentu dengan mencicipinya secara langsung.

Jika berkunjung ke Makassar, tidak ada salahnya menikmati coto pada pagi hari, kemudian mencoba pallubasa di waktu makan berikutnya. Dari sana, perbedaan rasa dan karakter kedua hidangan ini bisa dirasakan sendiri.


Menjaga Warisan Kuliner Sulawesi Selatan

Coto Makassar dan Pallubasa merupakan dua contoh kekayaan kuliner Sulawesi Selatan yang memiliki cerita, cita rasa, dan identitas masing-masing.

Coto hadir dengan kekuatan racikan rempah dan tradisi penyajian yang telah dikenal luas. Pallubasa menawarkan keunikan melalui kelapa sangrai, kuah gurih, dan kisahnya yang tumbuh dari tradisi masyarakat.

Keduanya membuktikan bahwa kuliner bukan sekadar urusan rasa. Di dalam semangkuk makanan, terdapat sejarah, kebiasaan, kreativitas, serta cara masyarakat menjaga warisan budaya.

Serupa dalam tampilan, tetapi berbeda dalam karakter. Coto Makassar dan Pallubasa tetap menjadi dua alasan menarik untuk mengenal lebih dekat kekayaan kuliner Sulawesi Selatan. (Redaksi karebamelo.com)

Kulit Durian Bisa Jadi Cuan! Dari Olahan Makanan Hingga Isian Bantal, Limbah yang Berpotensi Menjadi Peluang Usaha

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Drama 2-2 dan Adu Penalti Bawa Garuda Ukir Sejarah

Prabowo Lantik Sejumlah Pejabat Kabinet Merah Putih di Istana Negara

Kasus Influenza di Indonesia Meningkat, Kemenkes Imbau Masyarakat Tetap Waspada

Film Laut Bercerita Tembus Kompetisi Utama BIFF 2026, World Premiere Sebelum Tayang di Indonesia

Coto Makassar dan Pallubasa, Serupa Tapi Tak Sama: Dua Kuliner Legendaris yang Bikin Rindu Makassar


Glory FM - Make it real better (Radio Streaming - dengarkan setiap hari)

Banner Dalam Artikel

Buletin

Warta Jemaat, GKJ Paku, dan Renungan Iman

Lihat semua →
Memuat Buletin…

Iklan & Promo

Jangkau Klien Potensial - Tingkatkan Penjualan.

Lifestyle

Berita pilihan gaya hidup terbaru

Lihat semua →
Memuat berita Lifestyle…

Vodcast

Video Pilihan Redaksi

Lihat semua →
Medley Toraja Folksong - Toraja Ethnic Project
Allegra Choral Production mempersembahkan sebuah kolaborasi musik etnik Toraja spesial dalam rangka ulang tahun Tana Toraja yang ke-64 dan Hari Jadi Toraja yang ke-774
LIVE STREAMING 24 JAM CNN INDONESIA
Saksikan live streaming CNN Indonesia secara langsung. Jangan lewatkan informasi terbaru, analisa mendalam, dan laporan langsung dari berbagai daerah di live streaming 24 jam CNN Indonesia.
Festival Tallu Lolona Kabupaten Tana Toraja
Memperingati Hari Jadi Ke-779 Toraja dan Hut Ke-69 Kabupaten Tana Toraja di Lapangan Tana Toraja Masero, Kelurahan Rante, Kec. Makale
Karebamelo.com

Ikuti Channel Karebamelo.com

Dapatkan berita terbaru, kabar pilihan, dan inspirasi langsung melalui channel favorit Anda.

ADVERTISEMENT Iklan Karebamelo.com